(ماء) ‘Ma: Menurut Perspektif Islam
UTM

(ماء) ‘Ma: Menurut Perspektif Islam

Disiapkan oleh:
Dr Aminudin Hehsan
Dr Zulkiflee Haron
Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi Fiqih (CFiRST), UTM

Sebuah deskripsi tentang pentingnya air dari perspektif Islam

Ma` atau air adalah molekul yang terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen yang dianggap berstruktur sederhana namun tetap dapat menghasilkan reaksi yang kompleks.

Oleh karena itu, air disebut pelarut universal karena memiliki keseimbangan dinamis.

Air juga merupakan salah satu pilar terpenting alam semesta karena Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air.

Allah menjelaskan hal ini dalam Quran; “Apakah orang-orang kafir tidak menyadari bahwa langit dan bumi itu ‘dulu’ adalah satu massa kemudian Kami pisahkan keduanya? Dan Kami ciptakan dari air segala yang hidup. Apakah mereka kemudian tidak percaya?” (al-Anbiya’ 21:30).

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zād al-Ma’ād fi Hadyi Khayr al-‘Ibād, vol. 4, menyatakan bahwa air secara alami bersifat dingin dan lembab, dapat mengurangi panas dan menjaga kesegaran tubuh.

Kualitas air dapat diamati melalui sepuluh metode seperti yang dijelaskan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam tabel berikut:

Tidak. Barang Keterangan
1 Warna air Air yang baik berwarna jernih
2 Bau air Air yang baik tidak berbau
3 Rasa air Air yang baik rasanya segar sedikit manis seperti air sungai Nil dan Efrat
4 Berat air Air yang baik itu ringan dan lembut
5 Daerah air Air dari daerah yang dikeringkan dengan baik
6 Sumber Air dari mata air yang dalam
7 Kondisi air Air yang terkena angin dan panas matahari yang tidak tersembunyi di bawah tanah
8 Pergerakan Air yang mengalir deras
9 Kuantitas Sejumlah besar air mampu menguraikan campuran yang buruk
10 Lokasi Dimana air mengalir dari utara ke selatan atau dari barat ke timur
Tabel 1: Metode Ibnu Qayyim untuk mengidentifikasi kualitas air. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma’ād fi Hadyi Khayr al-‘Ibād, volume 4, halaman 238-239

Menurut Ibnu Qayyim al-Jawziyyah lagi, jika kita melihat air yang memenuhi syarat di atas itu adalah air dari empat sungai di dunia ini, yaitu Sungai Nil (di Mesir), Sungai Efrat (di Irak), Sungai Saihān Sungai dan Sungai Jaihān (keduanya di Iran).

Sungai-sungai ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Sungai-sungai Saihān, Jaihān, al-Nil dan al-Furāt, semuanya adalah sungai-sungai surga”. Hadis yang dikeluarkan oleh Muslim, dalam al-Jannah wa Sifat Na’imihā Bāb Mā Fi al-Dunya min Anhār al-Jannah (hadits no. 2839).

Air hujan merupakan air yang paling lembab karena tidak terakumulasi di muka bumi dibandingkan dengan jenis air lainnya.

Ibnu Qayyim dalam Kitab al-Wabil al-Sayyib Min al-Kalim al-Tayyib juga dengan air hujan terkait “Ghait” untuk menjelaskan pengaruh dan peran air dengan kehidupan.

Nama dan rasanya cocok untuk rohani dan jasmani.

Air hujan adalah kategori air yang paling baik, lembut, bermanfaat dan memiliki banyak berkah, terutama ketika hujan dari awan disertai dengan guntur dan berkumpul di danau gunung.

Air hujan merupakan air yang paling lembab karena tidak terakumulasi di muka bumi dibandingkan dengan jenis air lainnya.

Dengan demikian, mudah berubah seperti bau yang tidak sedap karena reaksi yang lebih cepat.

Ada hadits dari Anas bin Malik. Dia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad ketika tiba-tiba hujan. Nabi Muhammad (damai dan berkah Allah besertanya) membuka kainnya sehingga terkena hujan, dan dia berkata: “Sesungguhnya, air ini baru saja datang dari Tuhannya”. Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim, Sahih, dalam Solat al-Istisqā’ Bāb al-Duā’ fi al-Istisqā’, (hadits no. 898).

Ibnu Qayyim juga menjelaskan beberapa fitur, kepentingan, dan kandungan jenis air lainnya seperti salju, air embun, air sumur, air mineral, air zam zam, air Nil dan air laut.

Untuk menjamin kualitas air tetap luar biasa dan sehat, oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang baik dan efisien oleh manusia yang telah diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi ini.

Air juga dapat mempengaruhi tubuh manusia dan hidup berdampingan membentuk karakter. Ketika lidah dibasahi dengan molekul air liur yang selalu mengingat Tuhan, secara tidak langsung membentuk molekul dan kristal positif.

Lain halnya dengan orang yang berbicara kotor atau tidak zikrullah, molekulnya berubah menjadi negatif. Ia mengalir di dalam tubuh dan membuatnya tercemar dan cacat.

Hubungan antara lidah dengan pembentukan karakter manusia dapat lebih diperkuat dengan pernyataan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Imam, yang mengatakan Dari al-Hasan, dari sebagian sahabatnya berkata: Nabi Muhammad bersabda: “Tidak lurus iman seorang hamba sampai lurus hatinya, dan tidak lurus hatinya sampai lurus lidahnya”. (vol.1. 97, no. 8).

Posted By : keluar hk